TUGAS
SOSIOLOGI AGAMA
“Peran Kepemimpinan Parabela Pada Masyarakat
Suku Buton”

OLEH:
KELOMPOK
SUKU BUTON
1.
SITTI
HARNIA 8. NURLIA
2.
FEDIANI 9. RUSNA
3.
SITI
LUSTINA 10. NENG INDAH
4.
JASMAN 11. HUSNAH
5.
SUPLIN 12. TAHABUDIN
6.
MUH.ARMADIN 13.
USIN
7.
AMIR 15.HAFIT
LAJANU
14. LD.MUH.MOBIARTO
PROGRAM
STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
HALU OLEO
KENDARI
2014
“PERAN
KEPEMIMPINAN PARABELA PARIKA PADA MASYARAKAT SUKU BUTON”
v Pengertian Parabela
Parabela
pada masyarakat suku Buton dapat diartikan sebagai tokoh adat atau tokoh
masyarakat yang mempunyai wewenang dalam pengambilan keputusan yang menyangkut
kemaslahatan bersama dalam masyarakat. Eksistensi Parabela dalam masyarakat Suku Buton dianggap sebagai sesuatu yang
sangat menentukan berkah tidaknya suatu kampung yang dihuni oleh masyarakat
tertentu.
v Peran Parabela Sebagai Pemangku Adat (adhati)
Masalah
adat istiadat merupakan tugas utama parabela di masyarakat suku Buton. Peran
pemerintah formal yaitu kepala desa atau lurah tidak memiliki kewenangan dalam soal
adat istiadat, walaupun memang mereka juga diberi tempat saat duduk musyawarah
adat. Dalam menjalankan peran sebagai pemangku adat, parabela akan dibantu oleh
semua perangkat formal, baik agama maupun adat dalam menyelenggarakan ritual
adat di kampung mulai dari penetapan hari, panitia pelaksana, sampai hari
pelaksanaan pesta adat semua perangkat harus turun untuk membantu
penyelenggaraan pesta adat karena unsur adat dan agama ada dalam prosesi pesta
adat.
Parabela
pada masyarakat Suku Buton selama ini memegang peranan yang sangat penting
dalam segala proses adat yang dijalankan oleh masyarakat itu, termasuk yang
paling urgent adalah peran parabela sebagai perangkat agama dalam masyarakat. Dalam
setiap ritual yang hendak dilakukan oleh masyarakat Suku Buton haruslah melalui
persetujuan dan keterlibatan Parabela. Sebagai
contoh, ketika hendak membuka sebuah lahan pertanian baru yang kebetulan di
dalamnya masih terdapat banyak pohon besar yang oleh masyarakat setempat
diyakini masih mempunyai kekuatan adikodrati, maka di situlah Parabela menganbil posisinya sebagai
pemuka adat sekaligus pemuka agama. Sebelum pohon tersebut ditebang, ada ritual
tertentu yang dilakukan oleh mereka berupa pembacaan Bhatata (mantra-mantra) yang dipercayai secara spiritual dapat
menghilangkan pengaruh kekuatan adikodrati yang terdapat pada pohon besar tersebut
sehingga nantinya tidak akan menganggu masyarakat yang akan menggarap tanah di
tempat itu.
Ketika
ritual penebangan pohon tersebut dilaksanakan, Parabela membacakan mantra-mantra yang berupa doa keselamatan bagi
masyarakat yang hendak menggarap lahan pertanian itu, maupun keselamatan bagi
orang yang nantinya akan berlalu lalang di sekitaran pohon tersebut. Biasanya,
dalam ritual tersebut ada sesajen yang diletakkan di bawah pohon atau di batang
pohon dengan tujuan untuk memberi makan roh-roh halus penghuni pohon. Adapun
isi dari sesajen tersebut adalah berupa rokok 4 batang, uang 4 ribu rupiah, daun
sirih 4 lembar dan rook tersebut salah satunya dinyalakan dengan tujuan agar
roh halus penunggu pohon dapat menikmatinya. Terlepas dari perkara benar atau
salahnya melakukan hal tersebut, tapi seperti itulah adanya prosesi pelaksanaan
salah satu ritual yang dipimpin oleh Parabela
sebagai gambaran bahwa keberadaan mereka sangatlah menentukan kemaslahatan
masyarakat Suku Buton.
Terkait
dengan makna dari bahan-bahan yang digunakan dalam sesajen tadi, rokok dan daun
sirih menunjukkan bahwa roh-roh halus juga hal-hal yang sering dilakukan oleh
masyarakat pada umumnya, yaitu merokok dan memakan sirih. Uang tersebut bermakna
bahwa segala sesuatunya berharga dan dapat dibeli dengan uang, termasuk harga
dari sebuah perlindungan yang akan diberikan oleh roh halus kepada calon
penghuni kebun. Adapun semua bahannya berjumlah 4 bermakna bahwasannya mereka
menginginkan perlindungan dari arah Utara-Selatan, Barat-Timur.
Selain
dari ritual adat penebngan pohon besar tersebut, sebenarnya masih banyak
Peranan Parabela dalam segala sendi kehidupan
masyarakat, termasuk di dalamnya mereka berperan dalam penyelesaian perkara
pernikahan baik pernikahan normal maupun yang dipaksakan (Kawin lari). Dalam
kasus kawin lari yang secara adat memang dibolehkan bagi masyarakat suku Buton,
Parabelalah yang turut memberikan
jalan keluar sekaligus jika mereka ingin melanjutkan pernikahan secara normal.
Masih
banyak lagi sebenarnya peranan Parabela dalam
masyarakat suku Buton utamanya dalam kaitannya dengan adat-istiadat yang selama
ini dipegang teguh oleh segenap lapisan masyarakat di sana dan telah menjadi
tuntunan dalam kehidupan beragama dalam masyarakat .